Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Saat Aku di Umur 16

Bersama guru-guru Mab'uts dari Mesir.

            Aku sering menerawang jauh ke beberapa tahun belakang. Apa-apa saja yang sudah aku lakukan. Apa-apa saja yang harusnya aku lakukan tapi tidak. Hal-hal apa saja yang harusnya tidak aku lakukan tapi dulu aku lakukan. Ya, ketika aku memikirkan masa lalu memang kebanyakan berakhir dengan penyesalan. Kali ini aku sedang memikirkan aku disaat umur 16 tahun.
            Kalian tahu Martin Odegard? Dia adalah bocah berumur 16 tahun asal Norwegia yang berhasil melakukan debut untuk tim sebesar Real Madrid. Lalu di Italia, ada Gianluigi Donnarumma. Kiper berusia 16 tahun yang berhasil melakukan debut bermain untuk Ac Milan. Pindah ke Jepang. Ada Uzumaki Naruto yang berhasil mengalahkan seluruh Pain sendirian di usianya yang ke 16. Iya, SENDIRIAN.! Padahal Kakashi-sensei saja sampai hampir mati dan Ero-Sennin a.k.a Jiraiya pun terbunuh ketika menghadapi Pain. Naruto memang luar biasa. *salut* Sekarang kita pindah ke Indonesia, ada aku, M Teguh Pradhana. Sewaktu aku berumur 16 tahun, Aku ............ nah ini, aku ngapain ya?    

            Aku umur 16 tahun, berarti saat itu adalah masa-masa aku berada di Kelas Matrikulasi di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes. Madrasah Aliyah kalau caranya kalian ya sama dengan Sekolah Menengah Atas atau biasa disingkat SMA. Bedanya, kalo kalian sekolah 3 tahun, aku 4 tahun karena ada Kelas Matrikulasinya.
            Ada dua poin penyesalan jika melihat kondisiku sekarang yang ingin aku ulangi dan ubah alur ceritanya. Pertama, aku ingin di umur 16 itu aku masuk SMA Negeri 1 saja ! Ya, terkadang (ini terkadang yaa) aku menyesal lebih memilih jenjang pendidikan di ponpes. Coba kalau waktu itu aku sekolah di SMANSA atau di SMA 2, lulus tahun 2009, waktu itu orang tua masih dalam keadaan “mampu” hingga aku bisa kuliah di Universitas Negeri yang sama dengan teman-teman seangkatan, lulus di tahun yang sama dengan mereka, mungkin sekarang aku sudah bisa secara rutin memberikan bulanan jutaan ke orang tua. Mungkin lho ya, sekali lagi ini mungkin. Kalau mau tahu kondisiku saat ini, klik ini dan itu.
           Di pondok, aku lulus 2010, telat 1 tahun ketimbang teman-teman sebaya. Dan sayangnya, di tahun itu pula kontrak kerja ayah saya habis, hingga aku memilih kuliah di Universitas yang murah meriah (700 ribu per semester). Pola pikir dan mentalku menjadi kacau disini. Entahlah aku ngga bisa menggambarkan. Dan bukan berarti aku menganggap jelek institusiku. Hanya saja, disini aku merasa tidak berkembang.
            Poin penyesalan kedua, kenapa waktu 4 tahun mondok tidak aku gunakan dengan sebaik-baiknya? Butuh waktu 2 tahun bagiku untuk memahami apa itu kalam, apa itu nahwu dan setelah 4 tahun aku masih belum begitu mengerti apa itu shorof. Kenapa waktu masih mondok nggak menghafal al-Quran? Lalu ketika lulus lanjut kuliah di Mesir? Kenapa ketika masih mondok tidak .... bla ... bla... bla masih banyak lainnya. Banyak.... banyak sekali yang ingin aku lakukan, aku maksimalkan dan ubah di 4 tahun sekolah MAK.
            Wujud dan perangaiku sekarang memang sama sekali tidak mencerminkan alumni pondok pesantren. Akhlak? Don’t make me laugh. Menyedihkan. Aku tahu teori-teori keridhoan Allah, tapi tetap tidak bisa mengamalkannya. Aku tahu teori-teori dosa tapi masih tetap melakukannya. Dan sayangnya, aku belum begitu mengerti tentang konsep taubat nasuha, tobat yang bisa membuatku berhenti melakukan dosa-dosa. Lalu apa bedanya aku dengan lulusan-lulusan sekolah negeri? Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Bahkan ibadahku cenderung kalah dari ... sebut saja Oncom yang notabene adalah lulusan SMA Negeri.
            Semua penyesalan ini berawal dari memilih. Pilihanku sendiri untuk sekolah di MAK al-Hikmah 2. Bahkan, dulu aku sempat bersitegang dengan orang tua karena pilihanku ini. Dan dari pilihan itulah, semuanya terlahir menjadi tidak beres. Namun, semua kembali pada satu teori; semua ada nilai positif dan negatifnya. Termasuk pilihanku untuk masuk menimba ilmu di Pondok Pesantren tadi.
Bersama Abah Muchlas Hasyim



            Semoga ada hikmahnya bagi yang membaca dan bagi alumni MAK / ponpes, tolong jangan salah paham. Baca dulu secara keseluruhan, pahami keadaanku dan pahami konteksku. Wassalam ‘ala man ittaba’al huda........... *tulisanoranggenah*

Selasa, 17 November 2015

Dibalik Lelaki yang Hebat, Terdapat .....

            Selepas mengantar Yasmin dan Amar ke sekolah, tidak seperti biasanya aku tidak lanjut tidur. Tadi pagi aku memilih untuk santap sarapan terlebih dahulu. Kembali ke kamar, aku tidak dapat lagi untuk memejamkan mata. Bingung, aku ambil handphone dari saku celana, aku buka kaskus. Di lounge, ada satu thread yang menarik perhatianku.


            Thread itu berkisah tentang bagaimana seorang mahasiswa yang jatuh bangun menjadi seorang penulis. Dia mengaku awalnya dia sangat ingin menjadi seorang pengusaha. Oh ya, biasanya ketika aku buka kaskus, aku cari thread yang cara mengemas threadnya menarik. Sedikit kata dan dibumbui gambar-gambar. Nah ini beda ! thread ini semuanya tulisan, ngga ada gambar satupun. Tapi entah kenapa aku tertarik untuk membacanya kata demi kata.
     
            Ada banyak hal yang bikin aku trenyuh dan bahkan sampai menangis ketika membaca postingan agan Salk tersebut. Pertama, aku salut sama tekad yang dia miliki untuk menjadi pengusaha justru tumbuh ketika dia masih duduk di sekolah menengah atas alias SMA. Lha aku? Waktu kelas 3 SMA malah lagi sibuk-sibuknya dolanan facebook, sibuk membahas siapa sih akun cewek bernama “Siti Khumaero” bersama temen-temen sekelas. Pada masa itu pula pertama kalinya aku mengenal dan tahu apa yang namanya Tubedelapan. Suram sekali. Sialnya, si TS seumuran sama gueeh.!
            Kedua, dia bisa tetap tahan banting terhadap semua permasalahan. Bayangkan, dia habis ditipu 2 juta (duit segitu untuk ukuran mahasiswa gede lhoh) seminggu kemudian ayahnya dipanggil Allah SWT. Kalo aku yang jadi dia, wuah sudah hancur berantakan mentalku. Oh ya, di bagian ini nggak terasa aku mencurahkan air mata. *mencuraaaahkaan*
            Ketiga, dia mendapatkan kasih sayang Allah yang begitu besar ketika orang yang dulu menipunya kembali menelefon. Si penipu itu kemudian meminta maaf dan mengembalikan uang 2 jutanya Ts + ditambahi uang 1 juta sebagai permintaan maaf. *Bagian ini aku merasa iri.* dimana dia bisa mendapatkan keberuntungan yang besar berupa titik terang di balik kebimbangan. Satu hal yang belum aku dapatkan saat-saat ini.
            Tapi hal tersebut belumlah apa-apa. Aku iri iya, tapi masih dalam taraf wajar. Namun satu hal yang dia punya, satu hal yang selalu memompa semangatnya yang selalu jadi motivasinya, NISA ! Ya, aku iri ... iri sekali sama dia yang memiliki Nisa di sisinya. Satu hal yang ngga aku miliki. Ketika membaca thread agan Salk tersebut aku jadi semakin percaya, “Dibalik lelaki yang hebat ada wanita yang kuat.”



            Ah bagian dia yang mempunyai wanita yang selalu mensupport betul-betul bikin aku marah ! hahahaha. Bayangin, dia bisa jadi penulis gara-gara si Nisa itu yang ngeposting tulisan-tulisan kisahnya Ts ke blog. Ah ribet jelasinnya, baca aja deh ... klik disini dan rasakan apa yang aku rasakan. Semoga terinspirasi juga sama kisahnya. Sayangnya dia ngga mencantumkan judul buku yang berhasil naik cetak dan diterbitkan.

Kamis, 29 Oktober 2015

TALK ABOUT : SKRIPSI (again)

S.K.R.I.P.S.I
(Sepertinya Kau Rampas Indahnya Percintaanku Sama Ina)

Jadi ceritanya, aku sudah membuang duit sekitar 3 juta 500 ribu selama 5 semester terakhir hanya untuk bayar registrasi kuliah dengan Mata Kuliah; Skripsi. semester 7 masih agak banyak mata kuliah selain skripsi ada PPL, PKn dan Budaya Jawa. Semester 8 skripsi + KKN dan semester-semester selanjutnya hanya skripsi. Artinya, aku utek-utek input mata kuliah skripsi untuk waktu yang sangat lama, 2 setengah tahun!
Banyak temen-temen yang heran dan bertanya-tanya kenapa? Apa susah? Tidak. Apa dosennya susah? Hemmm tidak juga. Sedang nunggu apa lagi? Nggak nunggu apa-apa juga. Aku cuma bisa menjawab, “Aku pun tak tahu...” Jujur, aku malu. Malu sama bapak ibu, sama tetangga, sama teman-teman. Apalagi pas salah satu teman sekelasku bilang begini, “Oh anak kelas kita, cowoknya yang belum lulus tinggal kamu ya? Yang paling pinter malah belum lulus.” Oh my goodness. Aku malu sama bapak ibu yang dulu sempat berharap banyak pada anaknya yang satu ini. Anak yang ternyata tidak bisa memberikan kebanggaan sedikitpun. Aku malu sama adik saya yang dulu sempat benar-benar mengidolakan aku sebagai kakaknya.    

melamun


***Semua kecewa sama saya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa aku sampai menelantarkan skripsi sampai bertahun-tahun. Yaa, walaupun oke laaaah alasan ada hanya untuk pecundang. Kali ini tak apalah aku dikatain pecundang.
Pertama, ketika sedang mengerjakan proposal skripsi. Dengan PD nya laptopku rusak. Hemmm, mungkin lebih tepatnya Aku rusak. Ceritanya waktu itu aku ngerjain sampai jam setengah 2 pagi. Udah ngantuk banget kan. Nah, pas aku tidur laptopnya ada di sampingku terus headsetnya terselip diantara keyboard dan layar. Mungkin, aku tindihin atau bagaimana, pas aku bangun tuh layar laptop sudah pecah aja.
Kedua, aku mengajar di kota asalku Brebes. Saat itu, aku nggak bisa membagi waktu. Yaa meskipun sebenarnya jadi guru itu nyantai sih. Tapi, jangankan ngerjain skripsi buka foldernya aja nggak pernah. Akhirnya dengan pertimbangan yang cukup mentah, aku pun memilih resign setelah satu tahun penuh mengajar di sekolahan itu. Alasannya mau fokus skripsi dulu.
Ketiga, Andini. Yaa, ini adalah masalah pekok yang berlarut-larut. Setiap hari aku nggak bisa melepaskan hape dari tanganku. Mencoba selalu menghubunginya, mengajaknya ngobrol dan jalan-jalan. Untuk kisah selengkapnya silakan scroll aja di postingan-postingan sebelumnya. KLIK. Andini makes my heart soar and makes my heart sore.
Keempat, dasar akunya aja males. Mungkin alasan inilah yang paling benar. Aku males banget. Banget banget, Gan. Aku bisa menghabiskan waktu seharian hanya dengan tiduran diatas paku  kasurnyaJupe. Absolutely do nothing. Buka BBM lalu buka Facebook, lalu buka Instagram, kemudian buka BBM lagi, semua itu kebanyakan untuk ngepoin akun akunnya Fina Andini. Yeaaaa I’m sucks, terrible, horrible and pathetics. I’m too bored to do nothing but I’m too lazy to do something. Parah banget, kan?

Ah, seandainya aku bisa kehilangan rasa malasku secepat aku kehilangan motivasi. Mungkin sekarang aku sudah sedang nggarap thesis deh. *Berandai-andai*

Selasa, 27 Oktober 2015

ANDINI (Final Chapter): Bagaimana Hubungan ini Diakhiri


Semoga ini adalah bab terakhir dari cerita kebodohan aku dan Dini. Malam kamis tanggal 16 September 2015, aku memutuskan untuk secara baik-baik bicara ke dia tentang pengibaran bendera putihku. Iya, I totally give up this night. Sebab, umurku sudah segini banyak dan aku merasa kalau aku sudah nggak pantas lagi untuk terlalu hanyut dalam masalah cengeng bin bodoh seperti ini.
            “Aku bingung harus gimana...” kata Dini. Perkataan yang sudah aku dengar dan baca beribu-ribu kali. Engga ding, ngga nyampe jutaan paling sekitar 900 ribuan kali. *abaikan cuma bercanda. Dan aku pun ngga ngerti bab apa yang bikin dia terus-terusan berkata bingung.
            “ya sudah, aku punya dua solusi.” Kataku.
   
Sebenarnya aku sudah pernah menyampaikan ini sih, tapi waktu itu dia gamang dan belum membuatku yakin untuk mengambil keputusan. Kali ini aku imbuhi dengan kata “ini serius” karena aku khawatir kalau selama ini dia menganggap aku cuma bercanda.
“yang pertama, jadikan aku benar-benar the only one for you, one of a kind dan kita berkomitmen, lalu kamu hapus segala tentang Qubil. Kedua, aku hapus segala sesuatu tentang kamu dan kamu juga berusaha untuk hapus Qubil, it helps you for sure.”
Benar, kali ini aku memang sedikit banyak memaksa. Why? Cause I’m tired to be a shit for about 4 years and more!. Aku ingin posisiku jelas. Bukan lagi teman rasa pacaran, bosen. Kekanak-kanakan? Lebay? Cengeng? Atau paling kalian membatin, “cowok kok kayak gitu.”  Well yaaa, love is madness and when you are being mad, you do not care to other things. Adalah percuma ketika kalian bilang ini-itu ke orang yang sedang jatuh cinta dan moreover.... ke orang yang patah hati. Emmm, mungkin saja dua atau tiga tahun lagi ketika aku kembali membaca cerita ini aku bakal mbatin, “wella dalah, kok aku dulu kaya gitu ya?”
Malam itu aku ingin sekali pada akhirnya ada senyum di wajahku. Namun sayang, harapan hanya tinggal harapan. Nothing changes. Dia jawab,
“Jujur, aku lebih cenderung ke opsi yang kedua. Aku ingin beli hape baru lagi saja, nggak mau pake hape samsung atau hape sony”
Artinya, dia ingin move on dari Qubil dengan mencari sosok baru. Bukan dengan aku. Aku tidak ada artinya sama sekali.
Hehehehehe.
*menarik nafas dalam-dalam*
*hembuskan*.
Aku pun melanjutkan, “kalo begitu, aku akan block (lagi) semua kontakmu. Dan please, jangan cari aku.”
Sumpah, bukan maksud hati untuk memutus silaturahim dengannya. Selama 4 tahun ini aku sudah berusaha pergi dengan baik-baik, tapi selalu gagal. Adalah hal yang mustahil aku nggak care ke dia dan mustahil pula aku berhenti cinta dia jika masih berhubungan dengan dia. Ketika dia update status emotikon sedih saja, tangan ini rasanya gatal ingin tanya “kenapa?” selalu nggak bisa menahan diri.
            “Aku juga akan berusaha buat tidak stalking fb mu lagi pake akun-akun kloningan. Aku nggak akan tanya-tanya temen lagi status di bbm mu sekarang apa. Dan please, kamu pun harus bantu aku, jangan cari aku lagi kayak kemarin ,,, jangan tiba-tiba lagi telfon atau sms aku. Aku mohon dengan sangat.” Jelasku panjang lebar.
Semenit ,,,, dua menit ,,,, dia diam. Lalu, “harus ya begitu?” jawabnya singkat.
Entahlah, entah kenapa aku merasa kalau dia memang selama ini nggak pernah mengingat usahaku buat menjauhi dia. Mengingat ingat saja tidak apalagi menghargai ... apalagi membalas. Mimpi. Just like, hal yang berkaitan denganku hanya berlalu begitu saja. Ngga ada pentingnya sama sekali. Bahkan dia dengan mudahnya berkata, “maaf ... selain speechless... aku juga ngantukkkk.” Kasihan banget ya aku.... iya. Kasihan. The most kasihan boy ever in the world.

***skip skip**** dan akhirnya.....

            Aku kembali gagal untuk tidak berkomunikasi dengan dia. Berat rasanya. Akhirnya, semua kembali normal, except, akun-akun facebook aku yang masih tertutup. Kita kembali smsan dan kembali chattingan via BBM. But, thank to God, karena akhirnya Dini berkata dengan kepastian. Tidak lagi bingung-bingungan.
            “Tell me,,, atas hal apa aku bisa berhenti jatuh cinta ke kamu?” tanyaku.
            “yaaaaa.... Aku nggak cinta kamu, Guh. Dan nggak bisa dipaksakan..” jawab Dini.
Aku tatap layar hapeku lama,,, membiarkan layar hape Dini bertuliskan, “sedang menulis pesan....” Pikiranku melayang-layang lagi. Memutar-mutar semua peristiwa yang berkaitan tentang Aku dan Dini. “Aku kira itu cinta....” batinku. Oke fiks selama 4 tahun lebih ini aku cuma keGRan. Semua pelukan itu, semua ciuman itu, semua tangis itu mendadak tidak ada artinya sama sekali buatku. Apalagi dia menggunakan kata, “ngga bisa dipaksakan.” Seolah-olah aku maksa banget ke dia supaya mau sama aku.
            “Itu masih belum cukup untuk menghentikanku....” hahaha, Aku mencoba ngeyel meskipun sudah muak.
            “Mamah nggak setuju seandainya Aku sama kamu....”
JEGGGGGGEEERRRR HATIKU PORAK PORANDA.... eh, engga selebay itu ding ,,,,. Well, berhubung dia sudah nyebut-nyebut nama mamah (yang mana ngga setuju) aku langsung “habis”. Tapi aku masih coba mengakhiri ini dengan baik ....
            “Mamah gimana bilangnya?” Tanyaku
            “Din, kamu kok akrab banget sama teguh? Nanti kalau ada rasa gimana? Mamah nggak setuju lho kalau untuk hubungan serius.” Jawab Dini menirukan mamahnya. Tanpa dijelaskan apa dan kenapanya. Yaa, walaupun aku mawas diri sih. Gimana bakal mau, wong aku ngurus skripsi aja nggak becus kok. Belum penampilan fisikku yang nggak kayak cowok-cowok kebanyakan. Setiap aku bercermin Aku lihat tidak ada alasan apapun aku akan dicintai mati-matian oleh seorang wanita. Satu-satunya jalan ya ... well,,, aku harus punya banyak uang. Itupun dikejar, bukan dicintai.

*menghembuskan nafas*
*Hirup dalam-dalam*
Kenapa? Kebalik? Ngga boleh protes sama orang yang lagi patah hati !

            Here it is... inilah bagaimana cerita kebodohan aku dengan Dini harus diakhiri; AKU NGGAK CINTA KAMU & MAMAH ENGGAK SETUJU. Tidak ada lagi kata berat untuk menerima karena apapun yang mamahnya katakan aku harus patuhi. Selama ini aku merasa sudah mendoakan yang baik-baik untuk mamah Dini, jadi walaupun beliau tidak menerimaku bukan berarti aku jadi doain yang jelek-jelek, kan? Dan kata-kata Dini “Aku nggak cinta kamu dan nggak bisa dipaksakan.” Juga sudah cukup buatku untuk menghilangkan secara total perasaanku ke dia. Dari yang cinta banget menjadi biasa saja, awalnya susah tapi menjadi mudah ketika aku punya kesibukan dan sedikit demi sedikit mulai melupakan Dini. Sedikit demi sedikit mulai mengurangi kepedulianku ke dia hingga semoga saja berakhir menjadi “Stranger”. Mungkin ini akan berbeda jika dia menambahi kata “sudah” dan “lagi”. Jadi begini, “Aku sudah nggak cinta kamu lagi.” Mungkin aku akan tetap sedikit banyak menghargai waktu-waktu yang dulu terbuang percuma.

Iya ................................ terbuang percuma.

            Oke, aku pastikan ini adalah bab terakhir dari cerita aku dengan Andini. Aku bakal mengingat-ingat dua alasan itu. Semoga aku bisa merangkai sebuah cerita baru, dengan sosok yang baru pula. Bersama satu sosok yang lebih bisa menghargai proses perjuangan bukan hasil perjuangan. And I would like to say thank you very much to Tarry and Izzudin who said, “GOBLOK” to me. I really appreciate that. Without you, aku nggak akan pernah sadar. Dini..... terimakasih sudah menjadi kisah patah hati terhebatku. Aku doakan semua yang terbaik buat kamu. Semoga kamu temukan orang yang bisa mencintaimu secara tulus, setulus aku mencintai kamu. Setotal aku mencintai kamu. Semengerti aku dalam memahami polah-polahmu. Segalanya .... hope you have a happy life :’)

berdoa untuk Dini
*Klarifikasi: yaa,foto itu memang cuma pencitraan. Aku bukan anak sholeh.
                                         
FINISHED



Minggu, 25 Oktober 2015

ANDINI (part 5): Kebodohanku Menjadi-jadi

Dini sering banget putus sama Qubil. Bertengkar sedikit kata putus keluar. Bertengkar lagi, putus lagi. Untung Hanya pacaran, kalo udah nikah gimana?. Bertengkar sedikit, kata cerai terucap jangan-jangan. Aku selalu merasa sakit ketika Dini putus sama Qubil. Di setiap momen dia putus, justru aku ngga melihat kesempatan untuk memilikinya secara utuh. Seem like no chance at all. Setiap aku merasa sakit hati itulah aku mencari pelarian. Jauhan yang pertama aku macari Maghfiroh, jauhan kedua aku macari Widya dan jauhan yang ketiga aku macari Farikha. Sampai akhirnya aku merasa stuck. Aku merasa ngga bisa mencintai wanita selain Dini.

sedih, gan.
 
          Setiap Dini putus dari Qubil, aku menjadi orang pertama yang tahu hal itu. Aku menjadi orang pertama yang dia ceritain dan mungkin satu-satunya, entahlah, Katanya dia ngga pernah cerita ke mamah, Laila atau siapapun. Hanya aku yang tahu. Oh ada satu lagi yang selalu tahu, Nana. Aku juga jadi orang pertama yang dia ceritain ketika akhirnya balikkan lagi. Kalian tahu gimana rasanya aku? Sakit sekali. Seperti ada yang tunjleb-tunjleb gitu di dadaku. *Tunjlebna, waaa* .... Abaikan.
          Sekarang, Dini sudah lulus kuliah dan Aku masih berkutat dengan skripsi. Dini lulus semester 9. Aku sekarang masih semester 11 alias 3 semester lagi aku DO. Drop Out dari kampus dan mungkin saja dari rumah. Bulan Agustus Tahun 2015 Dini kembali putus dari Qubil. Kali ini mereka membawa masalah serius. Dini ingin kepastian Qubil menikahinya, sedangkan Qubil ngga bisa memastikan.
          Baik Qubil dan Dini menghadapkan masalah masing-masing keluarganya. Dini juga agak menyentil Qubil yang dirasa kurang gigih untuk mencari pekerjaan. Seperti biasa, Dini nggak memperdulikan aku. Dia dengan mudahnya menceritakan itu semua, kronologi putusnya seperti apa. Dia cerita lengkap dengan capture-capture percakapannya dia di BBM. Remember? Dini-Qubil LDR.
          Aku jadi korban perasaan, benar-benar sakit yang teramat sangat ketika harus menjadi saksi betapa hancurnya hati Dini putus dari Qubil. Aku sakit sekali melihat dia masih berharap hubungannya dengan Qubil akan kembali membaik. I’m getting mad when I see her cried cz of Qubil. Yang lebih menyakitkan, ketika aku bilang, “kamu nggak pernah sedikitpun cinta aku.” Dia bilang, “kamu salah.” Ini gimana sih? Kali ini aku bener nggak bisa paham. It’s absolutely nonsense.  Aku sering ngomong ke dia, “kamu terlihat abu-abu bagiku” dalam artian, dia tidak mencintaiku tapi seperti,,, iya aku juga cinta kamu.


***
          Suatu hari, aku hadapkan dia sebuah analogi. Sebuah perumpamaan. Aku cerita begini;
“ibaratnya, kamu punya dua buah hape. Hape yang pertama adalah hape yang sangat kamu cintai. Apalagi itu adalah smartphone, bisa apa saja. Aplikasinya banyak dan kamu ngga bisa melepaskan hape itu dari tanganmu. Sedangkan hape yang kedua Hanya hape jadul yang ngga bisa apa-apa. Hanya bisa sms sama telfon. Hape itu hanya kamu taruh di saku celanamu, Hanya kamu ambil ketika ada sms/telfon masuk. Suatu hari smartphone mu rusak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu menservis hape bagusmu itu? Atau kamu mendayagunakan hape jelek? atau kamu malah beli hape baru?.”
Aku harap dia paham kalo hape bagus yang aku maksud adalah Qubil, hape jelek yang hanya sewaktu-waktu doang dipakenya adalah Aku, dan hape baru yang artinya ketika hubungannya dengan Qubil rusak, dia akan cari pacar baru saja. Sayangnya, dia nggak mengerti dan nggak paham maksud dari perumpaan yang aku buat. Dan jawab sekenanya, “yaa kalo ada uang mending beli baru aja.” Aku pun mendelete kontak bbm nya, aku blok nomer hapenya, aku blok fb nya.
          Sayangnya, langkah block-block itu tiada guna. Aku masih sering coba stalking fb nya pake akunku yang masih berteman sama dia. Aku masih sering cari tahu kabar tentang dia dari siapapun itu. Akhirnya setelah 8 hari aku coba totally move on and failed.iya, cuma 8 hari aku bisa tahan nggak berhubungan sama dia.

          Astaghfirullahal’adzim.... entah sampai bab apa kisahku dengan Dini akan berujung. Kadang aku ingin stop secara total tapi ternyata bersambung lagi dan bersambung lagi. Aku sudah lelah, tapi masih saja memaksa untuk tetap berjalan.
====================================================================

Sabtu, 19 September 2015

ANDINI (part 4): Bagaimana Hubungan Ini Berjalan

MELAMUN

         Dalam menjalin hubungan, baik aku maupun Dini benar-benar bisa menutup rapat dari siapapun. Hemmm, sampai akhirnya Laila (adiknya Dini) paham sendiri sih, ngga tahu paham sendiri atau dikasih tahu Dini. Banyak teman-temanku baru tahu kalo aku “pacaran” sama Dini setelah pada lulus kuliah. Kecuali Zianur, Tari dan Khasanah yang akhirnya dengan terpaksa aku ceritain apa adanya. Daripada ribut tersebar luas kemana-mana dengan versi mereka sendiri. Mereka bertigapun tahu itu semua ketika sudah semester 7.
          Dengan pacarannya aku sama Dini, berarti secara otomatis pula aku semakin jauh dari teman dekatku, Zianur. Benar-benar jauh. Karena Dini sudah benar-benar takes over segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Kita jadi selalu berdua ketika makan di kantin, nonton film di bioskop berdua (sempat bertiga sih sama Laila), ngerjain makalah berdua (meskipun sebenarnya aku Hanya ngerusuhi) sampai lebih seringnya kita menghabiskan waktu hanya untuk sekedar ngobrol. Lebih sering lagi kita pergi berdua untuk sekedar membunuh waktu.   

          Pada tahap ini, Dini mulai benar-benar aku anggap sebagai kekasih. Dia makan dengan sendok yang sama denganku, minum dari gelas yang sama denganku. Dia tidak malu lagi menangis di depanku. Dia dengan mudahnya menaruh kepalanya di pundakku ketika sedang berdua. Dia yang ngga malu menyuapi aku puding di taman kampus meskipun sedang ada banyak mahasiswa tengah berkumpul.
Aku menikmati posisiku, meskipun aku harus selalu “sadar diri” dan mulai sering bertanya-tanya, apakah benar Dini juga cinta aku? Pertanyaan yang sampai sekarang masih sering aku pertanyakan. Kenapa aku bisa bertanya-tanya seperti itu? Karena dia sudah mempunyai Aku dan (tentu saja) Qubil, tapi dia masih suka galau karena Anto dan pacarnya sebelum Qubil yaitu Sulis. Ketika dia cerita tentang Qubil saja aku pengen marah, coba bayangkan gimana perasaanku ketika harus dengar dia cerita tentang Anto? Tapi saat itu aku hanya menanggapinya secara santai. Aku juga sudah terbiasa menahan api cemburu setiap Qubil telfon dan posisi kita sedang berduaan.
“sssttt....jangan ngomong dulu ya, Qubil telfon....” hahaha, ya, khas sekali.
          Jujur, Aku selalu menikmati waktu-waktu berbincang dengan Dini, entah via telfon, sms-sms yang aku simpan ataupun bertemu langsung. Aku selalu menikmati genggaman tangannya, menikmati sikapnya yang manja. Menikmati setiap pelukannya. Lebih dari itu semua, aku nyaman berada dekat dia dan diapun pernah mengucapkan kata-kata yang bikin aku selalu berharap kalo aku akan jadi one of a kind, “Aku lebih nyaman ketika bareng kamu daripada ketika bareng Qubil.” Entah benar atau tidak, kata Dini, ketika lagi jalan sama Qubil mereka selalu bertengkar hanya gara-gara masalah sepele. Entah sadar atau tidak dia berkata nyaman, secara setiap dia pergi bareng aku, tangannya tidak pernah lepas menggenggam hape.
***
          Suatu sore pada bulan puasa, Dini main ke tempatku. Sore yang menjadi salah satu waktu yang tidak aku senangi. Dia waktu itu benar-benar tidak menganggap dan tidak menghargai aku ... hemmm entah dia anggap aku apa, dia berturut-turut cerita Qubil lalu cerita Anto !! yang buat aku kesel, Dini cerita bukan cerita biasa. Tapi kegalauannya tentang dua cowok itu. Nah, sore itu di selasar masjid al-Ikhlas terjadilah percakapan ini. Sebuah percakapan yang berujung pada jauh-jauhan edisi kedua;

          “Aku boleh ngomong sesuatu ngga?” kataku.
          “apa?”
          “tapi kamu harus siap, soalnya aku mau ngomong hal yang menyakitkan.”
          “Iya ngomong aja ngga papa...” kata dia. Aku tatap wajahnya dalam-dalam..
          “kamu itu,,, seperti nggak mau rugi.”
          “ngga mau rugi gimana?” tanya Dini
“ya, kamu sama aku, pacaran sama Qubil juga. Tapi kamu ngga mau melepaskan Anto gitu aja. Itu kan artinya kamu ngga mau rugi, kamu seperti mau semuanya. Belum lagi mas mantanmu yang satu itu.”
Dini hanya diam. Dulu aku memang ngga tahu siapa nama mantannya itu. Dia Hanya selalu bilang mas mantan. Aku baru tahu namanya Sulis kemarin. Kembali ke sore itu. Aku antar dia nunggu bis Damri. Setelah dia naik bis, hape ku bergetar. Sms dari dia;
          “JLEBBBBBB.” Mungkin maksudnya, kata-kataku tadi menusuk. Jleb rasanya gitu.
          Ada 4 kali kita jadi jauhan dan semuanya terjadi ketika liburan semester. Intinya, setiap liburan semester Dini pasti ngejauhin aku dengan segala alasannya. Pernah suatu saat dia curhat perihal mamahnya yang ngga suka dia akrab sama aku. Alasannya, mamah ngga suka anak perempuannya yang sudah punya pacar jalan sama cowok lain. Mamah ngga enak sama tetangga katanya. Tidak berhenti sampai situ, dia tambahi,
“Baru lihat kita pergi berdua aja mamah udah begitu. Gimana kalo mamah tahu yang sebenarnya terjadi. Gimana kalo mamah tahu apa yang sering kita lakukan selama ini? Aku merasa berdosa sama mamah.”
Oke, aku turuti, hasilnya kita jauhan lagi. Tapi, ketika kuliah kembali berangkat. Kita kembali bertemu di kampus, kita kembali jadi akrab. Pernah juga dia pake alasan Qubil tahu hubungannya sama aku. Kata Dini, si Qubil punya mata-mata di kampus. Waktu itu juga aku turuti, kita jauhan.
          Hubunganku sama Dini memang begitu. Akrab, jauhan, akrab, jauhan. Sampai sekarang, Jalan gitu aja. Kadang menyenangkan, kadang hambar dan seringnya...... menyakitkan.
***

Sabtu, 12 September 2015

ANDINI(part 3): Mulai Berhubungan

         


Pergantian semester pun datang, aku menjadi semakin akrab dengan Dini. Aku mulai tau anggota-anggota keluarganya, latar belakangnya sampai cerita-cerita pribadinya. Apapun dia ceritakan dan aku senang mendengar ceritanya satu per satu. Mulai mantan yang masih sayang, sampai sosok orang yang dia cintai selain pacarnya, aku tahu semuanya. Akhirnya diapun memanggil aku “kakak” dan aku benar-benar memberlakukannya sebagai adik. Karena kebetulan aku ngga punya adik perempuan dan dia tidak mempunyai kakak laki-laki.
          Semester itu ada satu hal yang sangat aku ingat. Dia minta aku buat nyariin tempat yang jual pempek (makanan khas Palembang). Berhubung waktu itu aku belum bawa motor, maka akupun kesulitan. Sampai akhirnya kita ngga pernah sekalipun makan pempek berdua (sampai sekarang). Nah, suatu hari aku makan pempek dan langsung sms dia, “Aku lagi makan pempek lhoo dek.. nyam nyam nyam.” Bukannya membalas smsku, dia malah lebih memilih untuk mengupdatenya di facebook lengkap dengan menandai akunku. Berhubung dari tadi aku cari-cari statusnya ngga ketemu, aku tuliskan kira-kiranya begini;.

“Sore-sore begini sms Hanya mau pamer lagi makan pempek. Whuu dasar kakak yang payah.” 


          Keakrabanku dengan Dini nampaknya membuat pacarnya, Qubil, menjadi sangat tidak senang. Maklum lah, namanya juga LDR. Tepat di pergantian semester 3 ke 4, Dini berkata kalau dia harus jaga jarak sama aku. Meski berat, aku mengiyakan saja. Liburan semester 3 adalah pertama kalinya kita “jauhan”. Iya, pertama kali, karena selama 4 tahun ini kita berkali-berkali jauhan.

***
          Ternyata, jauh dari Dini make me feels like,,,, there’s something missing in my daily life. Biasanya ada yang cerita, biasanya ada yang curhat (yaa walaupun masih banyak si yang curhat sama aku, tapi tetep aja beda.) meski begitu aku masih belum yakin sama perasaan, waktu itu aku pikir paling hanya kehilangan teman cerita (adik) saja. Lagipula, waktu itu aku masih memikirkan dengan sangat sosok perempuan yang aku kenal semenjak SMA, Kholifatul Jannah alias mbak liva. Cerita tentang mbak liva sering lho aku tuliskan di blog ini.
          Akhirnya, setelah beberapa minggu perkuliahan semester 4 dimulai, aku sudah mulai ngga tahan terus jauh-jauhan. Suatu sore aku nganterin dia nunggu Damri depan gerbang kampus. Dan terjadilah percakapan ini...
          “Dek, jauhan sama kamu, rasanya aneh ....” aku memulai percakapan, posisi kita berdua masih berdiri gitu.
          “iya, sih Kak... aku juga ngerasa begitu...”
Sejenak kita berdua diam, bis Damri datang. Aku persilakan Dini untuk naik, dia lihat jam, lalu berkata nanti saja. Mau ngobrol dulu. Dini memberi isyarat “tidak” ke kondektur, Damripun berlalu. Kita kembali diam.
          “Aku bingung ngomongnya, dek ....”
Dini saat itu hanya diam, entah menyimak entah memandangi wajahku, aku ngga tahu karena waktu itu seingatku, aku ngga menatap wajahnya. Aku ngomong sambil lihatin dan sambil nulis-nulis di tanah.
          “Salah engga sih, kalo aku cinta kamu dek.?”
Yah, aku memang ngga pintar basa-basi akhirnya langsung jeger aja begitu.
“hemf .... salah juga ngga sih, kalo aku yang udah punya pacar juga cinta kakak?”
jawaban Dini itu membuatku semakin bingung, entah senang entah apa aku bingung aja. Tanpa melihat wajahnya, aku tunggu kata-kata selanjutnya. Berhubung ngga ada kelanjutannya, aku bilang,
“ini bukan cinta seorang kakak ke adiknya. Tapi, aku benar-benar cinta kamu sebagai laki-laki ke perempuan...”
          “iya, Aku tahu.... aku juga gitu...”
Senyum mengembang di bibirku, aku lihat wajahnya diapun tersenyum. Damri kedua datang, aku lihat matanya menyampaikan pertanyaan lewat tatapan, “ngga naik?” dia jawab, “nanti aja ah.” Damri keduapun berlalu.
          “hemmmm, berarti mulai kita pacaran nih?”
          “iya, kalo kakak merasa ngga apa-apa sih...”
          “maksud adek, aku jadi pacar keduamu? Hemmh, ngga papa sih..”
Akhirnya, sore itu aku resmi mulai jadi pacar kedua Dini. Entah tanggal berapa bulan apa, karena pada dasarnya itu bukanlah momen jadian. Aku hanya jadi selingkuhannya. Bodoh? “Tak apa”. Begitu pikirku waktu itu. Aku ingat sekali sebuah kutipan yang aku jadikan pembenaran, “love is madness. If you are not mad, you are not falling in love.” Entah darimana aku nemu kata-kata itu. Yang jelas, kalimat itu aku jadikan pembenaran atas kebodohanku selama bertahun-tahun.

***


Jumat, 11 September 2015

ANDINI (part 2): Cerita ini Dimulai

sketsa sosok Andini

Dini, begitu aku memanggilnya. Nama lengkap gadis itu Putri Andini. Katanya sih, orang-orang rumah memanggilnya Putri. Dia asli berasal dari kota ini, hal itulah yang memicu banyak teman-teman untuk bertanya, “Kenapa kuliah disini? Nggak di Unnes saja?” for your information, kampusku memang kurang begitu terkenal di kalangan warga Semarang kota. Kalah populer ketimbang Unnes, Undip atau Unissula. Saya sering kenalan dengan mahasiswa kampus lain, ketika aku sebut nama IAIN Walisongo, kebanyakan dari mereka hanya jawab, “oooh, nggak tahu dimana...” atau kalo ketemu mahasiwa yang sok ngerti jawab, “oooh IAIN,,, Jogja ya berarti?” ha... ha... ha.... *ketawa sinis*. Jadi wajar kalo Dini yang notabene adalah anak Semarang asli kuliah di IAIN (sekarang UIN) ditanya, “kenapa nggak kuliah di Unnes saja?” dia hanya menjawab, “nggak keterima kok disitu he he he...”

Dini bukanlah anggota kelasku yang tercantik. Bahkan cenderung tidak populer. Anggota kelas cewek yang sering diperbincangkan oleh cowok-cowok ketika berkumpul adalah; 1. Puji (of course) 2. Zianur 3. Khasanah 4. Usi dan (well) 5. Haryanti. Itu adalah list cewek yang diperbincangkan karena parasnya, sedangkan kalo dari kepintaran maka akan tersebut nama Solekhah, Minnatil, Izza dan Miftahul. Dini? Awal-awal semester dia benar-benar “tidak ada”. Awal-awal kuliah itu, aku masih sangat akrab sama Zianur. Pergi kemanapun selalu sama dia, cewek yang menjadi salah satu bahan obrolan para lelaki di kelasku.
***
Hari sudah sore, sekitar jam 4, waktu pulang jam terakhir hari itu. Aku lihat dia berjalan sendirian. Oh ya, I tell you something, waktu awal-awal kuliah, aku benar-benar sosok yang berteman dan cengengesan dengan siapapun; cowok, cewek, dari sejurusan, beda jurusan sampai beda angkatan. Makanya, di kalangan mahasiswa angkatan 2010 aku lumayan cukup banyak yang kenal di kampus.
Kembali ke sore itu. Melihat Dini jalan sendirian, aku samperin dia. Disitulah obrolan ketiga dan obrolan yang membuat kita akrab terjadi.
“Din ...!” Aku panggil dia
“hey, ..” dia menengok
“kok sendirian?”
Begitulah, dia bilang sedang menunggu Anto yang mau nganter dia sampai simpang lima. Setelah basa-basi sedikit, aku putuskan untuk menemani dia nunggu Ari di taman. Saat itu, aku tahu kalau dia pacaran dengan orang yang bernama Qubil. Anak pondok dan lebih muda dari Dini. Dia ceritakan secara runtut kenapa dia bisa jadian sama Qubil, apa yang dia sukai, dia harus LDR dengannya dan segalanya. Sore itu, pertama kalinya aku melihat hal yang sangat aku sukai dari dia, merajuk. .
          “oh ya, kamu kan juga dari pondok tho, Guh?” tanya Dini
          “He.eem,, betul ... hehehe”
“Berarti, bisa qiro juga dong? Aku tho sering minta Qubil gitu buat qiro depan aku...”
“hahaha, iya aku memang anak pondok tapi aku ngga bisa qiro, soalnya memang ngga belajar....”
“ah, bohong... ayo dong bacain ayat quran dilagu-lagu gitu, pasti bisa..”
“serius, aku ngga bisa ....”
bukan bermaksud merendah tapi aku memang nggak bisa dan mungkin nggak berbakat. Lagian waktu di Pondok aku nggak gitu respek sama orang-orang yang bersuara bagus.
“aku ngga percaya, cepet ah, aku maksa nih..”
Hahaha, itulah, aku suka sekali setiap dia bersikap begitu. Setelah dia merajuk begitu, akupun membaca ta’awwudz tapi kemudian tertawa dan bilang ke dia kalau akubetul-betul ngga bisa. Untungnya sebelum dia merajuk dan memaksa lebih jauh, orang yang mau dia bonceng datang. Yaps, Anto datang dan mengakhiri obrolan keduaku dengan Dini.

***

Kamis, 10 September 2015

ANDINI; Awal Mula

kita pernah disini
Saat itu aku berada di semester 2, berarti tahun 2011, di gedung D Fakultas FITK (dulu masih Fakultas Tarbiyah) aku pertama kalinya menyapa sekaligus sedikit ngobrol dengannya. Masih terasa jelas terpatri, obrolan pertamaku dulu dengannya bersumber dari statusnya di Facebook. Saat itu dia update status kira-kira seperti ini, “Syukurlah, Alhamdulillah hampir aja nyawa melayang.....”. Sesaat setelah perkuliahan selesai, aku lihat dia melamun dan terjadilah obrolan pertamaku dengan dia dalam sejarah hidupku.
“Statusmu kenapa itu, Din?” tanyaku langsung.
“Ooh, tadi pas berangkat aku hampir celaka...” Kata dia.
“Lhoh kok bisa? Bukannya kamu naik bis Damri ya?”
  
“Iya, Damri kan pintunya otomatis gitu. Berhubung tadi sesak, aku berdiri gitu depan pintu, pas pintu kebuka aku hampir jatuh, untung aja ada yang pegangin....”
“Oalaah, gitu ... “
Aku lupa kelanjutan obrolan itu seperti apa, seingatku sih akhirnya kita jalan sendiri-sendiri. biasa, cowok pergi sama cowok begitupun sebaliknya. Yang jelas, awal perkuliahan semester 2 tahun 2011 itulah pertama kalinya aku ngobrol dengan dia. Dia yang saat ini mengambil porsi terbesar dari semua hal yang aku pikirkan.
          Setelah obrolan itu, kita jarang berinteraksi secara langsung. Interaksi dengannya kebanyakan hanya lewat media Facebook. Nggak tahu kenapa, di semester awal itu dia begitu berbeda antara di kehidupan nyata dengan kehidupan maya. Di Facebook dia bisa lebih ... hemmmmm, nyelelek dan cengengesan. Beda jauh dengan dia versi nyata yang cenderung suka ngumpet.Untuk pengertian dua kata bahasa Jawa bergaris miring itu coba deh tanya anak Semarangan. Heeee.
          Obrolan keduaku dengannya terjadi ketika anak-anak sekelas pergi jalan-jalan ke sebuah pantai di Kendal. Waktu itu ada dua anak yang mengalami nasib nahas. Satu, hapenya teman kelas yang bernama Yusrul hilang ditelan ombak gara-gara waktu dia foto-foto, tangannya terkena bola tendangan salah satu teman. Dua, ya dia itu.
          “Hape kamu kenapa itu?” tanyaku setelah melihat dia ngelus-ngelus hapenya sambil dikerubuti 3 orang.
          “Tadi kan hapenya aku taruh di saku celana. Terus aku diceburin ke laut sama dia. Ini hapenya jadi mati” Katanya sambil nunjuk ke arah salah satu cewek.
          “Coba tho baterainya dilepas terus dijemur sampe kering.” Aku sok tahu.
          “Itu kan kalo kena air biasa, Guh. Ini masalahnya air laut kok.”

Uniknya, tipe hape dia dengan hapenya Yusrul sama, Nokia Express Music. Belakangan dia bilang benci sama cewek yang nyeburin dia ke laut itu. Bukan karena hapenya rusak, tapi karena itu cewek tidak sekalipun meminta maaf.


Kejadian hape nyemplung laut

Senin, 24 Agustus 2015

Jangan Curhat !

             Kata orang, kalo lagi ada masalah lebih baik ceritakan ke seseorang. Jikapun orang yang kamu curhatin nggak bisa ngasih solusi, minimal kamu ngerasa lega sudah cerita. Lega? Haha maaf tapi bagiku itu bullshit. Menceritakan masalah pribadi justru adalah sebuah langkah bumerang. Langkah bunuh diri.

          Kita ngga pernah tahu seperti apa watak seseorang, apa yang ada di pikirannya ketika kita sedang bercerita. Mungkin saja justru dia tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “PUASS PUAAS RASAAIIN.” Sedang ketika dihadapan kita dia hanya diam manggut-manggut. Kita juga ngga pernah tahu kedepannya dia akan jadi apa bagi kita? Apakah masih tetap sahabat, stranger atau justru berbalik memusuhi kita. Inilah yang aku bilang bunuh diri. Bagaimana jika orang yang kita percayai untuk tahu masalah-masalah kita justru jadi orang yang totally hate us?


          Hal paling memuakkan akibat dari cerita masalah pribadi ke orang lain adalah dia CERITAIN masalah kita ke orang lain! What a shame !!! manusia memang ngga ada yang bisa dipercaya. Sama sekali. Lalu apa yang harus dilakukan ketika masalah begitu berat seakan tidak sanggup dipikul sendirian? Hey, bung. Kita masih punya Tuhan.!

Periode Kelam

          Aku tengah memasuki periode hidup paling kelam dalam sejarah. Aku muda, tapi nggak punya segalanya. Energi nol, uang nol, waktu nol. Ibaratnya, aku ini sudah seperti mayat hidup. Dikatakan hidup ya mati, dikatakan mati ya nyatanya aku masih bisa ngetik tulisan ini, kan?

          Coba bayangkan, berminggu-minggu aktivitasku selalu sama. Itupun bukan merupakan rutinitas seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Hidupku cuma tidur, makan kemudian muter-muter pake motor, balik kamar tiduran berteman dengan hape. What the fuck man... aku ngerasa sedih sama diriku sendiri. Tidak produktif sama sekali, tidak bermanfaat sama sekali.


          Aku sadar that I’ve too much waste my times but entahlah,,, kesadaranku ini nggak bisa dibarengi dengan action. Padahal umurku sudah 24 tahun dan aku masih begini-begini saja. Pantas lah kalo bapakku semakin males sama aku. Just like, kamu pulang ya ngga papa engga ya silakan. Aku memaklumi itu dan aku ngga tahu harus mulai dari mana untuk merubah diriku yang asu ini.  

           Yaa,,, ilaahi wa maaliikii... Anta ta'lamu kaifa haaly ..... Anta ta'lamu kaifa haaly

LJK Kuis Bhs. Inggris Set 1

  Ku Peluk Hatimu - NOAH Soal bisa dilihat di pdf yang sudah saya kirimkan LJK Kuis set-1 klik aja disini