Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2018

Tentang Kematian


Hidup …… Mati.
“Kalau aku pikir-pikir. Terkadang kita sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan,
tapi kita tetap tidak berbuat apa-apa untuk menghindarinya.”
-Tomi-
Aku tersudut di pojokan dengan setelan hitam-hitam. Termenung sendiri di sudut halaman rumah salah satu teman semasa kuliah. Rumahnya saat ini ramai. Bukan, bukan ramai karena dia menikah, bukan! Melainkan karena dia meninggal dunia. Andri namanya.
Andri selalu menganggapku sebagai satu-satunya sahabat baiknya, meskipun jujur, aku tidak memiliki anggapan yang sama. Aku sering lupa hal apa saja yang dia curhatkan saking banyaknya cerita. Semasa hidupnya Andri suka sekali melempar guyonan yang seringnya tidak lucu-lucu amat, tertawa-tawa, bernyanyi dengan suara yang sangat keras dan suka membicarakan hal-hal yang terkadang ada di luar nalar orang kebanyakan. Seperti contohnya, satu waktu dia pernah cerita tentang tujuan Tuhan menciptakan manusia itu cuma karena Tuhan sedang bosen saja sedang mau ngapain. Dia bilang, karena kehabisan ide makanya Dia ciptakanlah makhluk bernama manusia. Lain waktu dia pernah dengan pedenya nyeletuk begini,
“Kamu tuh harus cepet nikah, Bro.” Katanya
“Lha emang kenapa?” Tanyaku
“Soalnya dalam rentang waktu 20-30 tahun lagi, Indonesia akan mengalami peperangan hebat. Kan kalo nikahnya sekarang, pas perang terjadi anakmu sudah lumayan dewasa. Bisa menyelamatkan diri bareng-bareng.”
“Waah…. “Aku melongo.

Belum lagi kebiasaannya nyampah di Facebook dengan status-status yang selalu bercerita tentang perempuan. Dulu aku suka membatin, “Ya Tuhan, ini anak alay amat ya...” namun setelah beberapa waktu tinggal satu kos (meskipun beda kamar) dan sering pergi bersama, aku jadi mengerti bahwa Andri itu unik. Tidak banyak manusia seperti dia.
Hari ini, dia meninggal dunia. Aku berdiri di sudut halaman rumahnya, memerhatikan sekeliling. Cukup ramai aku lihat orang-orang yang datang untuk berbela sungkawa. Beberapa aku kenali wajahnya, ada banyak teman sekolah yang datang sekedar basa-basi dengan keluarga lalu pulang, ada pula yang tetap stay sampai pemakaman, sisanya aku asing. Yaa, memang kalau aku pikir-pikir, teman-teman lama akan kembali mendatangi kita dalam tiga hal; Ketika butuh, Di hari pernikahan kita dan yang ketiga yaa itu tadi, di hari pemakaman kita.

merenung

Lewat celah jendela aku lihat Ibu Andri menangis tiada henti, mungkin masih belum bisa
menerima kenyataan anaknya yang meninggal dengan tiba-tiba. Ada empat ibu-ibu lain sibuk menenangkannya dengan berkata, “Sabar sabar...” tapi di mata mereka sendiri ikut bercucuran air mata. Sedang si Bapak berdiri depan pintu, sibuk menerima dan menyalami tamu-tamu yang datang mengucapkan bela sungkawa. Beliau nampak mencoba tabah dan menerima meskipun sesekali masih sesenggukan, mata sembapnya tidak bisa dia sembunyikan. Sisa menangis semalaman.
Semalam Andri ditemukan terbujur kaku tidak bernyawa di kamar kosnya. Diagnosa dari dokter, Andri terkena serangan jantung. Sial, tadi malam aku ndilalah sedang ngumpul dengan teman-teman komunitas untuk Nobar. Adiknya lah yang pertama kali menemukan dan langsung menelefonku. Sambil bercerita kronologi, dia menambahkan sebuah cerita klise,
“padahal selepas shalat Jumat masih sempat bertemu, masih sempat memberikan uang jajan, padahal... ....”
Ah tidak menarik lagi untuk aku dengarkan, batinku. Sama tidak menariknya dengan keluhan ibunya yang dia katakan sambil menangis,
“Padahal dia biasanya ceria, selalu bercanda, kalau telefon selalu cerita kabar baik, tidak pernah mengeluh sakit...”
haish batinku, harusnya orang tua tahu anaknya sakit atau tidak hanya dari melihat. Bahkan mungkin hanya dengan hubungan batin antar orang tua dan anak. Tidak harus menunggu anaknya cerita dulu baru tahu kalau dia sakit. Aneh sekali. Tidak masuk akal. Sedang di sudut yang lain, aku lihat satu perempuan menangis terisak ditemani satu perempuan lain yang juga menangis. Sayup-sayup Aku dengar dia juga mengeluhkan hal yang sama,
“Aku pikir dia Cuma sakit biasa,,, soalnya setiap minum obat warung juga sudah sembuh...”
kalau tebakanku benar, dia pasti mantannya Andri. Ya, kalau pacar dia pasti duduk di dalam rumah, ngga di pojok luar rumah begini, kan? Aku ingat betul almarhum suka sekali bercerita tentang rekan kerjanya yang sangat cantik, Vivi namanya. Dia juga bilang kalau mereka akhirnya pacaran. Namun entah kenapa sebulan ini tidak pernah lagi dia cerita tentang Vivi. Jadi aku ambil kesimpulan kalau mereka sudah putus.
Ada pula seorang wanita berkacamata yang menangis tiada henti. Aku tahu dia. Namanya Afi. Dia kerja di toko dan sempat jatuh cinta sama Andri, meskipun pada akhirnya cinta itu bertepuk sebelah tangan. Alasannya? Andri ingin punya pasangan yang berpendidikan. Ya, Afi tidak mengenyam pendidikan formal. Ada juga bisik-bisik orang yang berkeliaran berkelindan, berkata, “Ngga nyangka banget ya, padahal kayaknya sehat-sehat saja.” “Iya, rajin shalat juga...” “Minggu kemarin aja masih main PS sama aku.” Dan ucapan seorang berpeci putih menutup komentar-komentar itu, “insyaAllah khusnul khotimah karena Andri meninggal di hari Jumat.”
Satu hal yang aku tangkap, pepatah lama yang berbunyi, “Kalau Sudah Tiada Baru Terasa” sangat berlaku untuk kasus meninggalnya Andri. Dalam artian, ketika dia masih hidup orang-orang cenderung abai untuk memerhatikan bahkan mungkin untuk sekedar tahu. Namun setelah meninggal, apa yang Andri lakukan semasa hidup barulah teringat apa-apa saja yang pernah dia keluhkan. Aku ingat sekali Andri sering mengeluhkan eksistensi hidupnya. Dia sering merasa tidak berguna, tidak diharapkan dan tidak diinginkan siapapun. Padahal aku sudah sering sampaikan kalau itu Cuma perasaannya saja, tapi Ah, andai semalam aku ada di kos, mungkin bisa membantu dia pergi ke rumah sakit.
Di sudut halaman rumahnya, aku berdiri termenung. Mencoba merangkai dan merangkum tentang hidup dan mati, serta kaitannya dengan kehidupan manusia lainnya. Hari ini Andri meninggal dunia. Banyak sekali air mata yang jatuh karenanya. Berkali-kali si Ibu jatuh pingsan, lalu siuman hanya untuk menangis lagi.  Vivi masih menangis merasa menyesal tidak berjuang mempertahankan hubungan di sisa hidup Andri. Menyesal telah meninggalkan Andri yang sedang kesakitan. Afi masih menangis, berkali-kali dia terbata-bata mengatakan, “Dia hampir selalu beli Antangin dan Tolak Angin di toko ku. Dia bilang dadanya sakit karena masuk angin. Ngga nyangka kalau ternyata punya sakit jantung” Hemmmm, ya Andri memang susah betul untuk diajak periksa ke dokter. Entah sudah berapa puluh kali aku ajak dia ke dokter tapi dia selalu menolak. Katanya cukup minum Tolak Angin juga sudah sembuh. Pikirku apa karena dia ngga punya uang? ah tidak, dia kan sudah mengajar dengan gaji UMR.  Entahlah, mungkin saja sebenarnya dia takut tahu penyakitnya apa tapi selalu ditutupi dengan kata-kata sok jagoan cenderung menggampangkan, “Aku dari kecil tuh ngga pernah masuk Rumah Sakit, bro... santai, cukup Tolak Angin juga sudah sembuh.”
Di sudut halaman rumahnya, aku berdiri termenung. Mencoba merangkai dan merangkum tentang hidup dan mati, serta kaitannya dengan kehidupan manusia lainnya, Aku. Ya, terhitung sejak hari ini Aku resmi kehilangan teman diskusi paling asik. Teman diskusi yang selalu mengeluarkan jawaban-jawaban diluar nalar namun entah kenapa aku bisa selalu mengiyakan dan setuju saja sama pendapatnya. Mulai hari ini aku telah kehilangan teman bicara di setiap makan malam. Mulai hari ini aku kehilangan teman boncengan setiap pergi main futsal. Ya. Futsal.
Satu jenis olahraga yang termasuk paling berbahaya untuk penderita sakit jantung.  
=========
Ya sudahlah, bagaimanapun juga, pada akhirnya yang datang akan pergi, yang mulai akan berakhir, yang terbit akan tenggelam, yang bertemu akan berpisah dan yang hidup akan mati. Ya Tuhan, Andri pasti sebenarnya sudah tahu kalau jantungnya bermasalah. Tapi dia selalu tutupi hal itu.
Aku tergugu. Orang yang biasanya sok jagoan itu kini terbujur kaku tak bernafas. Orang yang selalu menyetrika pakaiannya itu demi berpenampilan rapi, kini mengenakan kain kafan. Orang yang semasa hidupnya rajin mengajakku mengaji, sekarang justru sedang tidur dengan iring-iringan kalimat Laa Ilaaha Illaallah. Air mata pun ikut jatuh seketika demi melihat keranda itu diangkat 4 orang dewasa. Ya, Cuma empat orang.! Hahaha Astaga orang ini, sudah meninggal pun kamu masih mau sok jagoan.
.                                                                                         
Tuhan, terimalah temanku ini di di sisi-Mu...
Tuhan, tempatkan dia di tempat yang selayaknya. Bagiku, Andri adalah manusia yang baik. Meskipun aku tahu sisi-sisi gelapnya yang pasti Engkau juga ketahui. Namun, aku yakin Engkau adalah Dzat yang maha Pemaaf, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(Cerita ini hanyalah fiktif belaka)
M Teguh Pradhana.
.
.


Senin, 07 Desember 2015

MENTAL DISORDER (3)

Part 3: Teman ..
            Kehidupanku di kampus tak berbeda jauh dengan kehidupanku di jaman sekolah dulu. Orang-orang yang bergaul denganku adalah mereka yang memang adalah sosok orang yang baik ke semua orang. Orang yang bergaul denganku hanyalah orang-orang yang betul-betul tidak memilih-milih teman. Hingga pada dasarnya, aku tidak pernah benar-benar memiliki teman. Satupun.
            Setiap harinya aku berangkat ke kampus hanya untuk perkuliahan lalu pulang ke kamar kos, entah itu langsung tidur atau melamun. Berhayal seandainya aku begini seandainya aku begitu. Di kampus tak satupun unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang aku ikuti. Pikirku percuma aku gabung kegiatan ekstra, toh paling akan berakhir tak berguna. Again and again. Pikiran itu bukan tanpa alasan, karena suatu ketika di semester awal, ada pelatihan untuk masuk  satu UKM yang mempunyai tagline, “kita bukanlah organisasi kita adalah keluarga.” Sebuah tagline yang sedikit banyak membuatku tertarik untuk bergabung. Dalam pelatihan itu diadakan suatu diskusi tentang peranan sekolah terhadap perkembangan psikis anak didik. Aku ingat betul waktu itu aku membantah pendapat salah seorang senior. Entah darimana keberanian itu datang. Sejatinya, berani untuk membantah juga salah satu skill yang tidak aku punyai. Dengan tagline “Kita Adalah Keluarga.” Aku pikir semua opini bisa ditanggapi secara bijak. Namun apa yang aku dapatkan adalah ancaman di akhir diskusi.     



“Koe pengen aku pukul, hah? Raimu iku jemotos bikin aku gatel pengen njotos ae.” Kata si senior dengan tatapan ala Voldemort.
Semenjak saat itu aku tak percaya lagi dengan semua tagline organisasi manapun. “Pasti sama saja.” Batinku. Aku putuskan untuk tidak masuk organisasi itu meskipun namaku tercantum lulus ujian pengkaderan.
            Sewaktu posisiku adalah mahasiswa semester 7 dan secara matematis aku adalah seorang senior di kampus, aku tidak seperti kebanyakan mahasiswa yang sibuk menggelar seminar dan sebagainya, aku masih sama seperti awal kuliah. Sendiri hidup tanpa gairah, tanpa teman, tanpa motiasi. Bahkan aku tak bisa mencintai diriku sendiri. Status di media sosial, “do you hate me? I do hate myself.” Pun berulang ulang aku tuliskan di dinding beranda. Ibarat pepatah, aku adalah mayat hidup. Hidup ya tidak, mati juga tidak. The Walking Dead.! (I hate myself)
            Jika hiburan akhir pekan teman-teman kampus adalah jalan-jalan bersama, maka aku tidak demikian. Semenjak hidup di kota ini, hal yang aku sukai adalah keberadaan toko buku dan bioskop. Dua hal yang bisa membuatku keluar kamar untuk “suatu urusan”. Dua hal yang aku jadikan alibi supaya tidak dikatain, “Ali kok hobinya di kamar terus, ngga keluar kemana gitu?.” Oleh ibu-bapak kos. Di bioskop, apapun filmnya, film barat ataupun film dalam negeri aku tonton. Demi hanya untuk membunuh waktu, membunuh rasa sepi. Seat E4 adalah favoritku, karena disitu aku akan benar-benar tak terlihat oleh pengunjung lainnya. Hilang dalam kegelapan teater.
Di toko buku, rak komik adalah tempat membunuh waktu paling menyenangkan bagiku. Sampai-sampai ketika aku sedang melamun di kamar, aku sering berkhayal memiliki kekuatan Rasengan-nya Naruto, tampang Cool-nya Hatake Kakashi atau otak pintarnya Shinichi Kudo, “Ah, kalo aku punya itu semua. Aku pasti disukai banyak orang. Aku pasti punya banyak teman.” Gumamku pada diri sendiri. Sayang sekali, hobiku mengikuti serial Naruto dari awal sampai saat itu tidak membuatku terpacu untuk memiliki tekad yang kuat seperti Naruto.  

berhayal punya Chidori

Suatu sore di akhir pekan semester 7, kembali aku sambangi rak komik toko buku terbesar di kota ini. Berhubung semua komik Naruto dan Conan sudah terbaca, maka aku mulai mencoba membaca komik-komik lainnya seperti Fairy Tail dan Crows Zero. Selesai baca Fairy Tail volume 2, aku coba baca volume 3 yang kebetulan sekali masih terbungkus plastik. Seperti biasa, aku coba untuk membuka sampul plastik itu secara diam-diam menggunakan kuku jempol. “Sreeeeeetttttt.” Ya, begitu bunyinya.
“Kan, sudah kuduga kamu disini....!!!”
Satu suara yang mengagetkanku tiba-tiba. Menghentikanku dari usaha membuka sampul plastik komik Fairy Tail volume 3. Jantungku berdegup kencang karena aku kira itu suara staff toko. Di toko buku ini memang memiliki peraturan dilarang membuka sampul plastik. Beda dengan toko buku satunya yang silakan-silakan saja untuk membuka.
“Rindu.... “ sebutku.
“kok ... kamu... kok disini?”
Tanyaku terbata-bata. Antara kaget, khawatir ketahuan buka sampul plastik sama heran. Rindu nyengir kuda.
“Heheheee. Sendirian lagi? Emmm, temenin aku aja yuk, mau ngga?” kata Rindi
“Em? Kemana?” tanyaku. Heran belum habis benar.
“Aku laper, mau nggak nemenin aku makan. Aku yang bayar deh. Sekalian ngobrol-ngobrol. Heheee.” Lanjut Rindi
“Yaa ... ya oke wis.”
Ini adalah pertama kalinya ada perempuan yang mengajakku menemani pergi makan. Jadi aku manut saja deh apa kata dia. Sekalian belajar merubah diri, coba bersosialisasi. Yaa walaupun hanya dengan satu orang. Lumayan lah.
KFC dalam mall deket toko buku jadi pilihan Rindu untuk makan bareng. Entah kebetulan atau memang sengaja, dia sendirian waktu itu. Jadilah kita Cuma makan berdua di pojok KFC.
“Rindi...... kok kamu bisa kenal aku?” aku coba membuka percakapan. Latihan.
“haha.. akhirnya kamu ngomong. Sudah aku tungguin dari tadi juga. Hihi.”
Rindu berhenti sebentar, menelan ayam gorengnya. Lalu melanjutkan.
“Semua orang di sekolah kita dulu, kenal kamu kali... siapa coba yang nggak kenal, makhluk dari planet lain ini. Hahahaha”
Aku yang awalnya senyum-senyum mendadak kembali memasang muka datar. Dia tertawa begitu seperti tanpa dosa. Belum sempat aku tanggapi. Rindu sudah kembali bicara,
“kenapa? Ngga terima? Marah? Mau mukul mata aku? Hihihi.”
“ooh, Rindu juga lihat kejadian waktu itu ?”
“iya laah, .. semua juga lihat.”
Aku jatuhkan pandangan mataku ke lantai. Diam. Memutar kembali memori waktu tanganku menghujam tepat di mata kanan si Anton.
“Hey,,, kenapa? Maaf deeh kalo aku menyinggung.”
“emm, ngga papa Rin. Aku cuma malu aja.”
“lhoh, kenapa harus malu? Aku salut lhoo, akhirnya kamu berani melawan.”
“Tapi akhirnya aku remuk juga, kan.. untung ada Pak Andi yang bubarin mereka. Eh, Rin?”
“iya? Kenapa?”
Aku diam. Sedikit ragu untuk menanyakan maksud, “salut”nya Rindi. Dan akhirnya memilih untuk tidak menanyakan.
“Emmmm ngga papa-papa..” ya, itu yang akhirnya keluar dari mulutku.
“Hayoo, mau ngomong apa tadi? Hehehehe. Hemmmm Kayaknya aku mulai paham deh kenapa kamu selalu sendirian.”
Dalam hati aku ngomong, apa-apaan dia sok-sokan meniru gaya Conan ketika sedang menganalisis kasus. Menaruh tangan di dagu sambil memincingkan matanya. Apalagi tangannya habis pegang ayam goreng. Mukanya jadi belepotan gitu.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena kamu alien .... hahahahaha.”
“ooh, iyaa..memang karena itu, kan?” menyebalkan sekali. Tapi tertawanya menyenangkan sekali. Meskipun, gara-gara itu orang-orang di KFC pada ngelihatin kita semua sih.
“Emang sebenarnya kenapa sih, Al? Kok kamu hobi bener sendirian?”
“Yaa, ......... aku ngga punya temen, Rin..”
“SATUPUN ???”
“Iya ... “                               
“Oke fiks..” kata Rindu mantap sambil memukulkan kepalan tangan kanan ke tangan kiri.
“Ha? Fiks.. apanya yang fiks?”

“Aku Rindu Andita dengan ini mendeklarasikan diri sebagai teman pertamamu dalam sejarah... heee.” Rindu senyum kuda. BERSAMBUNG ........ 
===========================================
Baca juga ya, Mental Disorder part 1 (Aku Bukan ALien) dan part 2 nya yang bercerita awal bertemu dengan Rindu (pertemuan). Tinggal diklik aja itu yang biru-biru. Kalo pembaca bertanya-tanya, antara judul dengan jalan cerita kok nggak nyambung? yaa, tunggu saja twist nya. Maklum saya masih newbie, jadi membangun ceritanya masih sedikit muter-muter. Minta komentarnya, ya ...

Senin, 23 November 2015

MENTAL DISORDER (2)

Alhamdulillah, ini adalah part 2 dari cerita bersambung Mental Disorder, semoga bisa menikmati ya. Kalo belum baca yang part 1, bisa dibaca di klik Mental Disorder: Part 1. Happy reading, all ^-^
***

PART 2: Pertemuan
            Bertahun-tahun aku terbiasa hidup sendiri, melakukan apapun sendiri. Sampai ketika mendaftar kuliahpun aku lakukan sendiri setelah jenjang SD, SMP, SMA selalu diantar ayah. Ya, dulu ayah adalah satu-satunya orang yang selalu percaya bahwa suatu hari aku akan benar-benar menjadi seorang Ali yang tinggi. Ali yang bijaksana. Ali yang bermartabat, Ali yang berwibawa. Namun, perlahan keyakinan itu nampaknya mulai luntur seiring berjalannya waktu.
            Kalian tahu musuh Spiderman 2 versinya Andrew Garfield? Nah, kondisiku persis seperti tokoh yang jadi Electro. Jelek, sendiri dan sebagus apapun kerjanya tetap tidak akan dianggap. Cuma, aku tidak selebay electro sih. Kesendirian ini berlangsung begitu lama membuatku tidak terlalu memahami apa itu artinya diterima, disayangi dan dicintai. Tidak, aku sama sekali tidak bisa memahami itu semua. Sampai suatu sore di sebuah toko buku terbesar di kota ini.
    
“Hei .... “                                                                     
Terdengar seperti suara wanita menyapaku, tapi aku tak menganggap suara sapaan itu untukku. Sudah terlalu lama tidak ada suara cewek yang memanggilku.
“Kamu.... Ali, kan?”
Aku toleh, lihat wajahnya. Lalu mengernyitkan dahi,
“Siapa?” tanyaku.
“hehehehe. Sudah kuduga kamu ngga kenal. Aku Rindu... Rindu Andita, dulu satu SMA lho sama kamu.”
Wajahnya teduh, dengan suara dan tawa yang menyenangkan. Itulah kali pertama aku berjabat tangan secara khusus dengan wanita. Biasanya aku menjabat tangan wanita cuma ketika halal bi halal. Tahu kan? acara selepas upacara di hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran itu.


ilustrasi dari sini

            Selalu ada kecanggungan untuk yang pertama. Aku canggung untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaannya, omongan-omongannya dan .... aku canggung menatap wajahnya. Namun, dia mungkin tipe wanita yang baik ke semua orang. Dia bertubi-tubi menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan, “kok sendirian?” “lagi cari buku apa?” “kuliah di kampus mana?” “Jurusan apa?” dan banyak lagi yang semuanya aku jawab dengan singkat padat dan jelas.
            Pertemuan itu berakhir setelah temannya datang dan merajuk, “udahan, yuk rin.” Setelah mengenalkan temannya, Rindupun pamit keluar duluan dari toko buku. Meninggalkanku yang mematung melihatnya berjalan menggoyangkan rambutnya yang diikat kuda, ke kiri dan ke kanan. Menggandeng temannya yang meskipun berjilbab, namun memakai skinny jeans dan jaket tanggung.
            Sepulangnya dari toko buku, di kamar kos aku cari-cari nama Rindu di buku Album Kenangan sekolahku dulu. Merasa aneh, karena ternyata Rindu adalah eks anak IPA I sedangkan aku adalah anak Bahasa II. Letak kelas IPA I dengan Bahasa II sangat jauh, kenapa dia bisa kenal aku?

=========================================================

 BERSAMBUNG KE MENTAL DISORDER part 3: Teman....

Saat Aku di Umur 16

Bersama guru-guru Mab'uts dari Mesir.

            Aku sering menerawang jauh ke beberapa tahun belakang. Apa-apa saja yang sudah aku lakukan. Apa-apa saja yang harusnya aku lakukan tapi tidak. Hal-hal apa saja yang harusnya tidak aku lakukan tapi dulu aku lakukan. Ya, ketika aku memikirkan masa lalu memang kebanyakan berakhir dengan penyesalan. Kali ini aku sedang memikirkan aku disaat umur 16 tahun.
            Kalian tahu Martin Odegard? Dia adalah bocah berumur 16 tahun asal Norwegia yang berhasil melakukan debut untuk tim sebesar Real Madrid. Lalu di Italia, ada Gianluigi Donnarumma. Kiper berusia 16 tahun yang berhasil melakukan debut bermain untuk Ac Milan. Pindah ke Jepang. Ada Uzumaki Naruto yang berhasil mengalahkan seluruh Pain sendirian di usianya yang ke 16. Iya, SENDIRIAN.! Padahal Kakashi-sensei saja sampai hampir mati dan Ero-Sennin a.k.a Jiraiya pun terbunuh ketika menghadapi Pain. Naruto memang luar biasa. *salut* Sekarang kita pindah ke Indonesia, ada aku, M Teguh Pradhana. Sewaktu aku berumur 16 tahun, Aku ............ nah ini, aku ngapain ya?    

            Aku umur 16 tahun, berarti saat itu adalah masa-masa aku berada di Kelas Matrikulasi di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes. Madrasah Aliyah kalau caranya kalian ya sama dengan Sekolah Menengah Atas atau biasa disingkat SMA. Bedanya, kalo kalian sekolah 3 tahun, aku 4 tahun karena ada Kelas Matrikulasinya.
            Ada dua poin penyesalan jika melihat kondisiku sekarang yang ingin aku ulangi dan ubah alur ceritanya. Pertama, aku ingin di umur 16 itu aku masuk SMA Negeri 1 saja ! Ya, terkadang (ini terkadang yaa) aku menyesal lebih memilih jenjang pendidikan di ponpes. Coba kalau waktu itu aku sekolah di SMANSA atau di SMA 2, lulus tahun 2009, waktu itu orang tua masih dalam keadaan “mampu” hingga aku bisa kuliah di Universitas Negeri yang sama dengan teman-teman seangkatan, lulus di tahun yang sama dengan mereka, mungkin sekarang aku sudah bisa secara rutin memberikan bulanan jutaan ke orang tua. Mungkin lho ya, sekali lagi ini mungkin. Kalau mau tahu kondisiku saat ini, klik ini dan itu.
           Di pondok, aku lulus 2010, telat 1 tahun ketimbang teman-teman sebaya. Dan sayangnya, di tahun itu pula kontrak kerja ayah saya habis, hingga aku memilih kuliah di Universitas yang murah meriah (700 ribu per semester). Pola pikir dan mentalku menjadi kacau disini. Entahlah aku ngga bisa menggambarkan. Dan bukan berarti aku menganggap jelek institusiku. Hanya saja, disini aku merasa tidak berkembang.
            Poin penyesalan kedua, kenapa waktu 4 tahun mondok tidak aku gunakan dengan sebaik-baiknya? Butuh waktu 2 tahun bagiku untuk memahami apa itu kalam, apa itu nahwu dan setelah 4 tahun aku masih belum begitu mengerti apa itu shorof. Kenapa waktu masih mondok nggak menghafal al-Quran? Lalu ketika lulus lanjut kuliah di Mesir? Kenapa ketika masih mondok tidak .... bla ... bla... bla masih banyak lainnya. Banyak.... banyak sekali yang ingin aku lakukan, aku maksimalkan dan ubah di 4 tahun sekolah MAK.
            Wujud dan perangaiku sekarang memang sama sekali tidak mencerminkan alumni pondok pesantren. Akhlak? Don’t make me laugh. Menyedihkan. Aku tahu teori-teori keridhoan Allah, tapi tetap tidak bisa mengamalkannya. Aku tahu teori-teori dosa tapi masih tetap melakukannya. Dan sayangnya, aku belum begitu mengerti tentang konsep taubat nasuha, tobat yang bisa membuatku berhenti melakukan dosa-dosa. Lalu apa bedanya aku dengan lulusan-lulusan sekolah negeri? Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Bahkan ibadahku cenderung kalah dari ... sebut saja Oncom yang notabene adalah lulusan SMA Negeri.
            Semua penyesalan ini berawal dari memilih. Pilihanku sendiri untuk sekolah di MAK al-Hikmah 2. Bahkan, dulu aku sempat bersitegang dengan orang tua karena pilihanku ini. Dan dari pilihan itulah, semuanya terlahir menjadi tidak beres. Namun, semua kembali pada satu teori; semua ada nilai positif dan negatifnya. Termasuk pilihanku untuk masuk menimba ilmu di Pondok Pesantren tadi.
Bersama Abah Muchlas Hasyim



            Semoga ada hikmahnya bagi yang membaca dan bagi alumni MAK / ponpes, tolong jangan salah paham. Baca dulu secara keseluruhan, pahami keadaanku dan pahami konteksku. Wassalam ‘ala man ittaba’al huda........... *tulisanoranggenah*

Jumat, 20 November 2015

MENTAL DISORDER. (1)

Part 1: Aku Bukan Alien !

Buatan Sendiri mohon dimaklumi

Sebut saja namaku, Ali. Dulu ayahku menjelaskan kenapa aku diberi nama Ali adalah dengan harapan, kelak aku bisa menjadi seseorang yang tinggi. Tinggi kedudukan, tinggi ilmu akalnya, tinggi segalanya. 12 belas tahun berlalu semenjak ayahku mengatakan harapan atas namaku. Namun apa daya, harapan tinggal harapan. Bisa dikatakan aku gagal memenuhi harapan itu.
            Jangankan tinggi pangkat, tinggi badan saja mentok di 168 cm. Ilmu agama cethek, ilmu dunia juga sama sekali bukan tandingan teman-teman sebaya. Dalam pergaulan sosialpun aku nggak ada apa-apanya. Aku bukanlah sosok seperti ayah yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Aku cenderung pemurung, suka menyendiri dan sulit diterima lingkungan. Makanya, aku hanya punya sedikit teman,-sebenarnya tidak punya sama sekali. Intinya, orang yang baik kepadaku adalah orang-orang yang memang baik ke semua orang
.    
            Terkadang ketika sedang bercermin, aku berkata-kata pada sendiri, “Hemmmm, pantas saja aku dijauhi.” Gumamku Mengkomentari apa yang membuatku tidak begitu menarik untuk diajak berteman. Setelah itu aku melamun lama. Sedikit protes pada Sang Ilahi, kenapa Dia tidak menciptakan aku dengan fisik yang sempurna? Fisikku sangat menyedihkan. Diurut dari ujung rambut hingga ujung kaki, tak ada satupun yang bisa aku banggakan wujudnya.
            Aku memiliki jidat yang sangat lebar. Sangat dan sangat lebar. Teman-teman dari jaman SD sampai jaman kuliah selalu ngata-ngatain jidatku sebagai lapangan bola, lapangan golf dan sebagainya. Jidat lebar itu dihiasi rambut ikal yang tumbuh jarang-jarang, hingga ketika aku berdiri di bawah terik matahari, jidatku akan bersinar dengan terangnya. Turun ke bawah, mataku terpasangi sebuah kacamata tebal yang posisinya naik-turun karena hidungku yang pesek,-tepatnya pesek sekali. Untuk yang satu ini juga banyak orang yang menjadikannya sebagai bahan guyonan seperti; hidung Jambu air, hidung tomat sampai hidung babi. Turun lagi ada gigi yang tumbuh secara tidak beraturan, ada yang bolong dan ada pula yang tumbuh berlebih. Semua aksesoris tampang wajahku itu diperparah dengan tubuh yang pendek, kulit hitam dan sangat kurus. Jadilah aku dipanggil ALI-en. ALIEN! Dan julukan itu ada terus menerus dari jaman SD sampai perkuliahan. Ali si Alien dari planet Mars ! (ada juga yang bilang dari Pluto).
            Semua olok-olok itu membuatku sangat dan teramat minder. Semenjak jaman sekolah aku malas untuk bergaul. Jajan di kantin sendirian, ke perpus sendirian bahkan di kelas, aku duduk sendirian (biasanya satu bangku dua anak). Menyedihkan sekali. Rasa ingin berontak dan melawan terpaksa aku pendam dalam-dalam karena ketidakmampuan fisik. Pernah kejadian, suatu hari ada anak yang menurutku paling belagu di SMA. Posisi ketika hendak pulang sekolah dia ngebully, sebut saja namanya Anton.
Anton, “Woi Alien... kapan lu balik ke Mars?? Hahahahaha. Di Bumi sudah sesak sono balik ke planet lu hahahaha ” kata dia dengan suara yang membuat semua orang menoleh ke arahnya. Menoleh ke arahku juga.
Aku tidak menyahut, aku pilih diam dan berlalu tanpa memperdulikan. Tak disangka, Anton marah dan mengejarku. Dia marah-marah dan mencengkik leherku sampai badanku terangkat. Badan Anton memang tinggi besar, namun agak gendut dan berkulit hitam.
Anton, “Maksud lu diem apa? Lu nantang gua?”
Aku masih diem tapi dalam hati aku mengutuk, “apa-apaan dia. Dia yang ngebully dia juga yang marah. Wong edan.” Dalam posisi badan terangkat karena cekikan Anton, dan dia dalam posisi lengah karena menertawaiku, aku beranikan mengangkat tangan dan “PAAKKK!” tanganku menghujam tepat di mata kanannya sekaligus membuat cengkeraman tangan anton terlepas dari leherku. Dalam keadaan takut setengah mati dia akan membalas, aku kumpulkan keberanian dan berteriak campur air mata,
“A ... KU .... ALI .... BUKAN ... A L I E N !!!”
-

Betul, siang itu aku berakhir babak belur dihajar Anton dan teman-temannya. Satu pukulan dibalas puluhan pukulan dan tendangan.

kira-kira begini. Gambar sendiri harap dimaklumi

========================================================================================

Selasa, 27 Oktober 2015

ANDINI (Final Chapter): Bagaimana Hubungan ini Diakhiri


Semoga ini adalah bab terakhir dari cerita kebodohan aku dan Dini. Malam kamis tanggal 16 September 2015, aku memutuskan untuk secara baik-baik bicara ke dia tentang pengibaran bendera putihku. Iya, I totally give up this night. Sebab, umurku sudah segini banyak dan aku merasa kalau aku sudah nggak pantas lagi untuk terlalu hanyut dalam masalah cengeng bin bodoh seperti ini.
            “Aku bingung harus gimana...” kata Dini. Perkataan yang sudah aku dengar dan baca beribu-ribu kali. Engga ding, ngga nyampe jutaan paling sekitar 900 ribuan kali. *abaikan cuma bercanda. Dan aku pun ngga ngerti bab apa yang bikin dia terus-terusan berkata bingung.
            “ya sudah, aku punya dua solusi.” Kataku.
   
Sebenarnya aku sudah pernah menyampaikan ini sih, tapi waktu itu dia gamang dan belum membuatku yakin untuk mengambil keputusan. Kali ini aku imbuhi dengan kata “ini serius” karena aku khawatir kalau selama ini dia menganggap aku cuma bercanda.
“yang pertama, jadikan aku benar-benar the only one for you, one of a kind dan kita berkomitmen, lalu kamu hapus segala tentang Qubil. Kedua, aku hapus segala sesuatu tentang kamu dan kamu juga berusaha untuk hapus Qubil, it helps you for sure.”
Benar, kali ini aku memang sedikit banyak memaksa. Why? Cause I’m tired to be a shit for about 4 years and more!. Aku ingin posisiku jelas. Bukan lagi teman rasa pacaran, bosen. Kekanak-kanakan? Lebay? Cengeng? Atau paling kalian membatin, “cowok kok kayak gitu.”  Well yaaa, love is madness and when you are being mad, you do not care to other things. Adalah percuma ketika kalian bilang ini-itu ke orang yang sedang jatuh cinta dan moreover.... ke orang yang patah hati. Emmm, mungkin saja dua atau tiga tahun lagi ketika aku kembali membaca cerita ini aku bakal mbatin, “wella dalah, kok aku dulu kaya gitu ya?”
Malam itu aku ingin sekali pada akhirnya ada senyum di wajahku. Namun sayang, harapan hanya tinggal harapan. Nothing changes. Dia jawab,
“Jujur, aku lebih cenderung ke opsi yang kedua. Aku ingin beli hape baru lagi saja, nggak mau pake hape samsung atau hape sony”
Artinya, dia ingin move on dari Qubil dengan mencari sosok baru. Bukan dengan aku. Aku tidak ada artinya sama sekali.
Hehehehehe.
*menarik nafas dalam-dalam*
*hembuskan*.
Aku pun melanjutkan, “kalo begitu, aku akan block (lagi) semua kontakmu. Dan please, jangan cari aku.”
Sumpah, bukan maksud hati untuk memutus silaturahim dengannya. Selama 4 tahun ini aku sudah berusaha pergi dengan baik-baik, tapi selalu gagal. Adalah hal yang mustahil aku nggak care ke dia dan mustahil pula aku berhenti cinta dia jika masih berhubungan dengan dia. Ketika dia update status emotikon sedih saja, tangan ini rasanya gatal ingin tanya “kenapa?” selalu nggak bisa menahan diri.
            “Aku juga akan berusaha buat tidak stalking fb mu lagi pake akun-akun kloningan. Aku nggak akan tanya-tanya temen lagi status di bbm mu sekarang apa. Dan please, kamu pun harus bantu aku, jangan cari aku lagi kayak kemarin ,,, jangan tiba-tiba lagi telfon atau sms aku. Aku mohon dengan sangat.” Jelasku panjang lebar.
Semenit ,,,, dua menit ,,,, dia diam. Lalu, “harus ya begitu?” jawabnya singkat.
Entahlah, entah kenapa aku merasa kalau dia memang selama ini nggak pernah mengingat usahaku buat menjauhi dia. Mengingat ingat saja tidak apalagi menghargai ... apalagi membalas. Mimpi. Just like, hal yang berkaitan denganku hanya berlalu begitu saja. Ngga ada pentingnya sama sekali. Bahkan dia dengan mudahnya berkata, “maaf ... selain speechless... aku juga ngantukkkk.” Kasihan banget ya aku.... iya. Kasihan. The most kasihan boy ever in the world.

***skip skip**** dan akhirnya.....

            Aku kembali gagal untuk tidak berkomunikasi dengan dia. Berat rasanya. Akhirnya, semua kembali normal, except, akun-akun facebook aku yang masih tertutup. Kita kembali smsan dan kembali chattingan via BBM. But, thank to God, karena akhirnya Dini berkata dengan kepastian. Tidak lagi bingung-bingungan.
            “Tell me,,, atas hal apa aku bisa berhenti jatuh cinta ke kamu?” tanyaku.
            “yaaaaa.... Aku nggak cinta kamu, Guh. Dan nggak bisa dipaksakan..” jawab Dini.
Aku tatap layar hapeku lama,,, membiarkan layar hape Dini bertuliskan, “sedang menulis pesan....” Pikiranku melayang-layang lagi. Memutar-mutar semua peristiwa yang berkaitan tentang Aku dan Dini. “Aku kira itu cinta....” batinku. Oke fiks selama 4 tahun lebih ini aku cuma keGRan. Semua pelukan itu, semua ciuman itu, semua tangis itu mendadak tidak ada artinya sama sekali buatku. Apalagi dia menggunakan kata, “ngga bisa dipaksakan.” Seolah-olah aku maksa banget ke dia supaya mau sama aku.
            “Itu masih belum cukup untuk menghentikanku....” hahaha, Aku mencoba ngeyel meskipun sudah muak.
            “Mamah nggak setuju seandainya Aku sama kamu....”
JEGGGGGGEEERRRR HATIKU PORAK PORANDA.... eh, engga selebay itu ding ,,,,. Well, berhubung dia sudah nyebut-nyebut nama mamah (yang mana ngga setuju) aku langsung “habis”. Tapi aku masih coba mengakhiri ini dengan baik ....
            “Mamah gimana bilangnya?” Tanyaku
            “Din, kamu kok akrab banget sama teguh? Nanti kalau ada rasa gimana? Mamah nggak setuju lho kalau untuk hubungan serius.” Jawab Dini menirukan mamahnya. Tanpa dijelaskan apa dan kenapanya. Yaa, walaupun aku mawas diri sih. Gimana bakal mau, wong aku ngurus skripsi aja nggak becus kok. Belum penampilan fisikku yang nggak kayak cowok-cowok kebanyakan. Setiap aku bercermin Aku lihat tidak ada alasan apapun aku akan dicintai mati-matian oleh seorang wanita. Satu-satunya jalan ya ... well,,, aku harus punya banyak uang. Itupun dikejar, bukan dicintai.

*menghembuskan nafas*
*Hirup dalam-dalam*
Kenapa? Kebalik? Ngga boleh protes sama orang yang lagi patah hati !

            Here it is... inilah bagaimana cerita kebodohan aku dengan Dini harus diakhiri; AKU NGGAK CINTA KAMU & MAMAH ENGGAK SETUJU. Tidak ada lagi kata berat untuk menerima karena apapun yang mamahnya katakan aku harus patuhi. Selama ini aku merasa sudah mendoakan yang baik-baik untuk mamah Dini, jadi walaupun beliau tidak menerimaku bukan berarti aku jadi doain yang jelek-jelek, kan? Dan kata-kata Dini “Aku nggak cinta kamu dan nggak bisa dipaksakan.” Juga sudah cukup buatku untuk menghilangkan secara total perasaanku ke dia. Dari yang cinta banget menjadi biasa saja, awalnya susah tapi menjadi mudah ketika aku punya kesibukan dan sedikit demi sedikit mulai melupakan Dini. Sedikit demi sedikit mulai mengurangi kepedulianku ke dia hingga semoga saja berakhir menjadi “Stranger”. Mungkin ini akan berbeda jika dia menambahi kata “sudah” dan “lagi”. Jadi begini, “Aku sudah nggak cinta kamu lagi.” Mungkin aku akan tetap sedikit banyak menghargai waktu-waktu yang dulu terbuang percuma.

Iya ................................ terbuang percuma.

            Oke, aku pastikan ini adalah bab terakhir dari cerita aku dengan Andini. Aku bakal mengingat-ingat dua alasan itu. Semoga aku bisa merangkai sebuah cerita baru, dengan sosok yang baru pula. Bersama satu sosok yang lebih bisa menghargai proses perjuangan bukan hasil perjuangan. And I would like to say thank you very much to Tarry and Izzudin who said, “GOBLOK” to me. I really appreciate that. Without you, aku nggak akan pernah sadar. Dini..... terimakasih sudah menjadi kisah patah hati terhebatku. Aku doakan semua yang terbaik buat kamu. Semoga kamu temukan orang yang bisa mencintaimu secara tulus, setulus aku mencintai kamu. Setotal aku mencintai kamu. Semengerti aku dalam memahami polah-polahmu. Segalanya .... hope you have a happy life :’)

berdoa untuk Dini
*Klarifikasi: yaa,foto itu memang cuma pencitraan. Aku bukan anak sholeh.
                                         
FINISHED



Minggu, 25 Oktober 2015

ANDINI (part 5): Kebodohanku Menjadi-jadi

Dini sering banget putus sama Qubil. Bertengkar sedikit kata putus keluar. Bertengkar lagi, putus lagi. Untung Hanya pacaran, kalo udah nikah gimana?. Bertengkar sedikit, kata cerai terucap jangan-jangan. Aku selalu merasa sakit ketika Dini putus sama Qubil. Di setiap momen dia putus, justru aku ngga melihat kesempatan untuk memilikinya secara utuh. Seem like no chance at all. Setiap aku merasa sakit hati itulah aku mencari pelarian. Jauhan yang pertama aku macari Maghfiroh, jauhan kedua aku macari Widya dan jauhan yang ketiga aku macari Farikha. Sampai akhirnya aku merasa stuck. Aku merasa ngga bisa mencintai wanita selain Dini.

sedih, gan.
 
          Setiap Dini putus dari Qubil, aku menjadi orang pertama yang tahu hal itu. Aku menjadi orang pertama yang dia ceritain dan mungkin satu-satunya, entahlah, Katanya dia ngga pernah cerita ke mamah, Laila atau siapapun. Hanya aku yang tahu. Oh ada satu lagi yang selalu tahu, Nana. Aku juga jadi orang pertama yang dia ceritain ketika akhirnya balikkan lagi. Kalian tahu gimana rasanya aku? Sakit sekali. Seperti ada yang tunjleb-tunjleb gitu di dadaku. *Tunjlebna, waaa* .... Abaikan.
          Sekarang, Dini sudah lulus kuliah dan Aku masih berkutat dengan skripsi. Dini lulus semester 9. Aku sekarang masih semester 11 alias 3 semester lagi aku DO. Drop Out dari kampus dan mungkin saja dari rumah. Bulan Agustus Tahun 2015 Dini kembali putus dari Qubil. Kali ini mereka membawa masalah serius. Dini ingin kepastian Qubil menikahinya, sedangkan Qubil ngga bisa memastikan.
          Baik Qubil dan Dini menghadapkan masalah masing-masing keluarganya. Dini juga agak menyentil Qubil yang dirasa kurang gigih untuk mencari pekerjaan. Seperti biasa, Dini nggak memperdulikan aku. Dia dengan mudahnya menceritakan itu semua, kronologi putusnya seperti apa. Dia cerita lengkap dengan capture-capture percakapannya dia di BBM. Remember? Dini-Qubil LDR.
          Aku jadi korban perasaan, benar-benar sakit yang teramat sangat ketika harus menjadi saksi betapa hancurnya hati Dini putus dari Qubil. Aku sakit sekali melihat dia masih berharap hubungannya dengan Qubil akan kembali membaik. I’m getting mad when I see her cried cz of Qubil. Yang lebih menyakitkan, ketika aku bilang, “kamu nggak pernah sedikitpun cinta aku.” Dia bilang, “kamu salah.” Ini gimana sih? Kali ini aku bener nggak bisa paham. It’s absolutely nonsense.  Aku sering ngomong ke dia, “kamu terlihat abu-abu bagiku” dalam artian, dia tidak mencintaiku tapi seperti,,, iya aku juga cinta kamu.


***
          Suatu hari, aku hadapkan dia sebuah analogi. Sebuah perumpamaan. Aku cerita begini;
“ibaratnya, kamu punya dua buah hape. Hape yang pertama adalah hape yang sangat kamu cintai. Apalagi itu adalah smartphone, bisa apa saja. Aplikasinya banyak dan kamu ngga bisa melepaskan hape itu dari tanganmu. Sedangkan hape yang kedua Hanya hape jadul yang ngga bisa apa-apa. Hanya bisa sms sama telfon. Hape itu hanya kamu taruh di saku celanamu, Hanya kamu ambil ketika ada sms/telfon masuk. Suatu hari smartphone mu rusak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu menservis hape bagusmu itu? Atau kamu mendayagunakan hape jelek? atau kamu malah beli hape baru?.”
Aku harap dia paham kalo hape bagus yang aku maksud adalah Qubil, hape jelek yang hanya sewaktu-waktu doang dipakenya adalah Aku, dan hape baru yang artinya ketika hubungannya dengan Qubil rusak, dia akan cari pacar baru saja. Sayangnya, dia nggak mengerti dan nggak paham maksud dari perumpaan yang aku buat. Dan jawab sekenanya, “yaa kalo ada uang mending beli baru aja.” Aku pun mendelete kontak bbm nya, aku blok nomer hapenya, aku blok fb nya.
          Sayangnya, langkah block-block itu tiada guna. Aku masih sering coba stalking fb nya pake akunku yang masih berteman sama dia. Aku masih sering cari tahu kabar tentang dia dari siapapun itu. Akhirnya setelah 8 hari aku coba totally move on and failed.iya, cuma 8 hari aku bisa tahan nggak berhubungan sama dia.

          Astaghfirullahal’adzim.... entah sampai bab apa kisahku dengan Dini akan berujung. Kadang aku ingin stop secara total tapi ternyata bersambung lagi dan bersambung lagi. Aku sudah lelah, tapi masih saja memaksa untuk tetap berjalan.
====================================================================

LJK Kuis Bhs. Inggris Set 1

  Ku Peluk Hatimu - NOAH Soal bisa dilihat di pdf yang sudah saya kirimkan LJK Kuis set-1 klik aja disini